Gas 3 Kg Langka di Lombok Timur, Pemkab Ungkap Penyebab Utamanya: Panic Buying

Lombok Timur, potretlombok.com – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menyebut kelangkaan gas elpiji 3 kilogram yang terjadi sejak akhir Ramadan dipicu oleh aksi pembelian berlebihan (panic buying) di masyarakat. Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi bersama Pertamina, agen, dan pangkalan elpiji di Ruang Rapat Bupati, Senin (13/4).
Panic Buying dan Penggunaan Tidak Tepat Jadi Penyebab
Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin mengakui masyarakat memang kesulitan mendapatkan gas subsidi tersebut dalam beberapa waktu terakhir. Namun, kondisi ini diperparah oleh isu yang memicu kepanikan warga sehingga membeli dalam jumlah berlebih.
Selain itu, Tim Satgas Elpiji juga menemukan adanya penggunaan gas 3 kg yang tidak sesuai peruntukan.
“Masih banyak yang tidak boleh pakai ternyata menggunakan elpiji 3 kg ini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa gas elpiji 3 kg merupakan subsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu, sebagaimana tertera pada tabung.
Permintaan Tambahan Pasokan untuk Stabilkan Kondisi
Sebagai langkah jangka pendek, Pemkab Lombok Timur meminta Pertamina untuk melakukan penambahan distribusi atau super ekstra dropping guna menekan dampak panic buying.
Langkah ini akan diiringi dengan pengawasan ketat oleh Satgas Elpiji untuk memastikan distribusi tepat sasaran.
Bupati juga meminta agen tetap menyalurkan gas sesuai jatah dan tidak mengurangi alokasi untuk pangkalan.
Distribusi Sudah Ditambah, Capai 40 Ribu Tabung per Hari
Sales Branch Manager (SBM) Rayon 1 NTB Pertamina Patra Niaga, Tommy Wisnu Ramdan, menyebut pihaknya telah meningkatkan distribusi elpiji 3 kg di Lombok Timur.
“Mulai 1 hingga 14 April, penyaluran mencapai sekitar 40.556 tabung per hari, atau ada penambahan sekitar 5.000 hingga 6.000 tabung per hari,” jelasnya.
Meski demikian, usulan penambahan pasokan lebih lanjut masih akan dilaporkan ke pusat.
Agen: Tren Pembelian Berlebihan Masih Terjadi
Salah seorang agen elpiji, Reza, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengimbau masyarakat untuk membeli sesuai kebutuhan, yakni satu tabung per orang.
Namun, tren pembelian berlebihan masih terjadi, bahkan sebagian masyarakat membeli sekaligus tabung dan isinya.
“Ekstra dropping sudah dilakukan dan bahkan melebihi alokasi normal, tapi masyarakat tetap membeli dalam jumlah banyak,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa penjualan tetap harus mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET).
Ditemukan Penggunaan oleh Usaha Non-Rumah Tangga
Dalam pengawasan di lapangan, ditemukan sejumlah pelaku usaha yang menggunakan elpiji 3 kg, termasuk peternak ayam dan mitra dapur program tertentu.
Padahal, gas subsidi tersebut seharusnya hanya digunakan oleh rumah tangga miskin.
Pemda Siapkan Solusi Jangka Panjang
Untuk solusi jangka panjang, Pemkab Lombok Timur berencana mengusulkan penggunaan data desil dalam pendistribusian gas elpiji 3 kg agar lebih tepat sasaran.
“Ini salah satu upaya untuk memperbaiki distribusi agar benar-benar diterima masyarakat yang berhak,” tegas Bupati.
Baca Juga: Gas LPG 3 Kg Langka di Lombok Timur, Warga Antre Berjam-jam hingga Pingsan
Satgas Lakukan Sidak dan Operasi Pasar
Sekretaris Daerah Lombok Timur H. Muhammad Juaini Taofik menambahkan bahwa pihaknya bersama Satgas telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan operasi pasar untuk menjaga stabilitas pasokan.
Menurutnya, dengan tambahan distribusi yang sudah melebihi penyaluran normal, kondisi diharapkan segera kembali stabil.
Ia juga menegaskan bahwa isu tersendatnya pasokan elpiji tidak benar. (PL-1)
