Produksi Menjanjikan, Sembalun Diproyeksikan Jadi Lumbung Bawang Putih

Foto bersama menteri pertanian dan gubernur NTB beserta staff saat kunjungan ke sembalun
Lombok Timur, potretlombok.com – Pemerintah pusat mulai memacu percepatan swasembada bawang putih dengan menjadikan Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai salah satu titik utama pengembangan nasional. Program ini ditargetkan mampu mengakhiri ketergantungan Indonesia terhadap impor bawang putih dalam lima tahun ke depan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, NTB telah resmi ditetapkan sebagai pusat produksi bawang putih Indonesia. Provinsi ini ditugaskan mengelola lahan seluas 25.000 hingga 50.000 hektar guna memasok kebutuhan antarprovinsi sekaligus menopang target swasembada nasional.
“Target kita adalah menghentikan impor dalam tigahingga lima tahun ke depan. Untuk swasembada, kita hanya butuh 100 ribu hektar secara nasional. Bayangkan, lahan padi seluas 7,4 juta hektar saja bisa kita selesaikan, apalagi hanya 100 ribu hektar. Saya yakin tugas ini bisa diselesaikan oleh Gubernur,” kata Amran.
Ia mengungkapkan, produktivitas bawang putih di NTB menunjukkan hasil signifikan dengan rata-rata produksi mencapai 20 ton per hektar, bahkan di sejumlah lokasi menembus 28 ton per hektar. Dari sisi mutu, produk bawang putih lokal NTB dinilai lebih unggul dibandingkan bawang putih impor.
“Kualitasnya sangat bagus, jauh melampaui barang impor. Karena itulah kami memusatkan program pemerintah di sini,” ujarnya.
Untuk mempercepat realisasi target tersebut, Kementerian Pertanian menyiapkan program khusus dengan dukungan penuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk pengadaan benih untuk pengembangan awal seluas 700 hektar. Pemerintah juga akan menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) guna menjaga stabilitas harga dan memastikan petani tidak merugi.
Baca juga: Longsor Tutup Jalur Wisata Pusuk Sembalun, Akses Kendaraan Roda Empat Belum Bisa Dilalui
Di luar sektor hortikultura, Mentan menekankan pentingnya sistem pertanian yang terintegrasi, mulai dari ketersediaan pakan, penguatan sektor peternakan, hingga stabilisasi harga jagung sebagai penopang ketahanan pangan daerah.
“Kami meminta para penyuluh pertanian lapangan (PPL) menjadi contoh dengan memiliki kebun sendiri dan tidak banyak alasan dalam bekerja,” tegasnya.
Ia menambahkan, perubahan pola pikir menjadi kunci keberhasilan program. Menurutnya, kemajuan daerah dan nasional hanya dapat dicapai melalui kesiapan bertindak dan kerja nyata, bukan sekadar wacana.
“Mari bergerak bersama membangun NTB dan Republik Indonesia,” pungkasnya. (pl2)
