Cerita Maiyah Warga Dusun Suka Maju Mempertahankan Nyala Dila Jojor, Dari Sekedar Penerang, Hingga Menjadi Penopang Ekonomi Keluarga

Lombok Timur, potretlombok.com – Dila Jojor bukan hanya sekedar obor kecil yang di nyalakan setiap malam ganjil pada 10 malam terakhir bulan ramadan atau setiap tradisi maleman masyarakat Lombok. Namun nyala dila Jojor bagi masyarakat Dusun Suka Maju, Desa Rempung, Kecamatan Pringgasela bukan hanya sekedar penerang namun juga menjadi penopang ekonomi keluarga.
Sejumlah ibu-ibu terlihat sibuk melilitkan kapas yang telah bercampur dengan biji nyamplung yang telah digoreng ke bambu kecil. Beberapa diantara mereka bertugas menjemur dan menumbuk biji nyamplung di alu kayu.
Sepintas kapas yang telah dililitkan di bambu itu mirip sate Pusuk. Namun itu bukan makanan melainkan Dila Jojor (obor kecil), yang digunakan oleh orang tua dulu sebagai penerang, dan sampai saat ini masih eksis di tengah masyarakat, bahkan pembuatan Dila Jojor menjadi salah satu sumber penghasilan bagi masyarakat Dusun Suka Maju, Desa Rempung Kecamatan Pringgasela.
Salah satu pembuat dila Jojor yang ialah Maiyah, 65 tahun. Menjadi pembuat dila Jojor dilakoni sejak masih berumur belasan tahun. Bahkan saat itu ia sudah lihai membantu orang tuanya membuat Dila Jojor, ilmu itu ia dapatkan dari orang tuanya yang juga berprofesi sebagai pembuat dila Jojor.
“Orang tua saya juga buat dila Jojor dulu. Jadi kita belajar dari sana. Bahkan dulu rata-rata orang membuat Dila Jojor di sini,” terang perempuan yang lebih akrab disapa Inaq Ruslan ini kepada Potret Lombok, Minggu (8/3).
Dua bulan sebelum Ramadan, ia mulai sibuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan dila Jojor, mulai dari kapas, biji nyamplung, sisa parutan kelapa dan bahan-bahan lainnya. Bahan yang paling sulit didapatkan ialah biji nyamplung.
Untuk bisa mendapatkan biji nyamplung, ia rela menyusuri hutan dan bantaran sungai di desanya dengan berjalan kaki hingga puluhan kilometer. Biji nyamplung saat ini lumayan sulit didapatkan, lantaran pohonnya sudah mulai jarang.
“Makanya 2-3 bulan sebelum puasa kita sudah keliling cari biji nyamplung. Karena untuk mendapatkannya tidak semudah dulu, pohonnya banyak yang sudah ditebang,” katanya.
Setelah mendapatkan biji nyamplung baik yang basah maupun yang sudah kering. Proses selanjutnya ialah mengupas biji nyamplung untuk mengambil isinya , kemudian dijemur. Setelah itu biji nyamplung digoreng hingga benar-benar hitam, hal ini untuk mempermudah proses penumbukan.
Tidak sampai di sana, proses selanjutnya ialah, jika sudah memasuki bulan puasa atau hari pertama puasa, pembuatan dila Jojor mulai dilakukan. Hal ini untuk mengantisipasi lonjakan permintaan di 10 hari terakhir puasa.
“Awal puasa kita sudah mulai buat. Kita sudah mulai menumbuk biji nyamplung, dicampur sisa parutan kelapa dan kapas. Kalau tusuknya sebelum puasa itu sudah jadi, kemudian kalau sisa parutan kelapa kita beli Rp 50 ribu per karung,” jelasnya.
Disebut, permintaan dila Jojor sampai saat ini masih tinggi. Bahkan pembeli tidak hanya dari Lombok Timur (Lotim), namun sepulau Lombok. Bahkan awal-awal puasa pesanan sudah mulai masuk. Tidak jarang para pengepul juga rela membayar lebih dulu.
Keberadaan lampu hias tidak membuat permintaan dila Jojor berkurang bahkan tergantikan. Bahkan nyala Dila Jojor akan tetap menyala karena sudah menjadi di masyarakat Lombok. Sehingga nyala Dila Jojor diyakini akan tetap eksis sampai kapan pun.
“Ini sudah menjadi budaya, jadi tidak akan pernah bisa hilang. Setiap bulan puasa dila Jojor selalu dicari. Makanya usaha ini akan tetap ada,” jelasnya.
Maiyah menyebut pesanan yang masuk bervariasi mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta. Selama bulan puasa ia tidak pernah libur untuk membuat dila Jojor. Adapun tujuh ikat Dila Jojor dijual dengan harga Rp 10 ribu, dalam satu ikat terdapat 5 biji dila Jojor.
Pekerjaan ini diakui sudah menjadi mata pencaharian baginya. Bahkan jejaknya ini sekarang diteruskan lagi kepada anak dan menantunya. Meski hanya musiman, namun hasil yang didapatkan lumayan besar bahkan jauh melebihi pendapat sehari-hari di bulan biasa.
“Alhamdulillah setiap tahun saya tidak pernah libur buat. Hasilnya lumayan banyak. Selama Ramadan kita bisa dapat paling sedikit Rp 3 juta. Tetapi kalau yang buat banyak bisa tembus sampai Rp 10 juta,” jelasnya.
Bagi Maiyah dila Jojor bukn hanya sebagai penerang jalan atau hanya lampu untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Namun dila Jojor juga menjadi penopang ekonomi keluarga. Pasalnya hanya di bulan ramadan ia bisa berpenghasilan lebih.
Pada hari-hari biasa diakui ia hanya menjadi buruh pemecah batu apung, yang penghasilan sangat minim, hanya diupah Rp 4.000 per karung. Jika dibandingkan dengan pembuat dila jojor hasil yang didapatkan bisa memenuhi kebutuhan dapur saat Ramadan, bahkan bisa untuk ditabung.
“Cuman hasil ini saja yang cukup banyak, apa lagi modalnya hanya kita beli sisa parutan kelapa saja,” tutupnya. (PL-1)
