Lombok Timur Jadi Pusat Riset Rumput Laut Berkelas Dunia

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Lombok Timur berjalan menuju lokasi peletakan batu pertama pembangunan pusat riset rumput laut tropis internasional di Desa Ekas. (Humas Pemkab)

Lombok Timur, Potretlombok.com– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur bersama Universitas Mataram (Unram), dan dengan dukungan penuh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), membangun International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) dan Laboratorium Spesialis Kedokteran Kepulauan di Desa Ekas.

Keberadaan ITSRC ini akan menjadi Lotim, khusunya Pesisir Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru akan menjadi pusat riset dan pengembangan rumput laut berkelas dunia. Hal itu dibuktikan dengan peletakan batu pertama yang dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Diktisaintek Stella Christie pada Kamis (12/2).

Bupati Lombok Timur Haerul Warisin menyampaikan ITSRC mampu melahirkan bibit rumput laut unggul yang berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat pesisir.

“Lombok Timur memiliki potensi dan kualitas rumput laut yang besar, namun belum dikembangkan secara optimal,” terang Ha Iron sapaan akrabnya.

Sementara itu, Rektor Unram Bambang Hari Kusumo menegaskan bahwa kehadiran ITSRC sebagai pusat riset rumput laut tropis bertaraf internasional akan berkolaborasi dengan peneliti dunia guna meningkatkan kualitas dan produktivitas komoditas tersebut.

“Laboratorium Spesialis Kedokteran Kepulauan merupakan satu-satunya di Indonesia dan menjadi bagian dari tujuh program pendidikan dokter spesialis di Unram,” jelasnya .

Tidak hanya membangun fasilitas, pihaknya juga menyiapkan tenaga dokter dan sarana pendukung untuk meningkatkan layanan kesehatan masyarakat.

Kata dia, dalam kurun waktu Enam bulan ke depan pembangunan sudah dimulai. Lahan ini merupakan hibah dari Pemda Lombok Timur. Sehingga diharapkan keberadaan fasilitas tersebut akan dapat, melayani kesehatannya masyarakat .

“Kawasan ini juga nantinya akan dikembangkan menjadi sentra produksi rumput laut,” ujarnya.

Sementara, Wamen Stella menegaskan bahwa peletakan batu pertama ini bukan sekadar seremonial. Pemerintah telah menggandeng dua institusi riset kelas dunia, yakni University of California, Berkeley dan Beijing Genomics Institute untuk memperkuat ekosistem riset dan hilirisasi rumput laut.

” Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dengan penguasaan sekitar 75 persen pangsa pasar global,” katanya.

Baca juga: Launching di Tanjung Aan, Pemkab Lombok Tengah Gaspol Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah)

Ia menyebut, nilai pasar rumput laut tropis mencapai USD 12 miliar atau sekitar Rp198 triliun dan diproyeksikan terus meningkat seiring berkembangnya teknologi hilirisasi, mulai dari pupuk, plastik ramah lingkungan, hingga bahan bakar seperti bio-avtur.

“Tujuan riset adalah meningkatkan pengetahuan untuk meningkatkan pendapatan dan perekonomian kita. Jika Indonesia tidak memiliki riset sains dan teknologi, kita tidak akan menikmati nilai ekonomi yang berputar di dunia,” tegasnya.

Selain memperkuat riset, pemerintah juga melibatkan dunia usaha melalui Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) guna membangun ekosistem industri rumput laut yang berkelanjutan.

Dengan hadirnya pusat riset ini, Lombok Timur diharapkan menjadi episentrum pengembangan rumput laut tropis dunia sekaligus motor penggerak ekonomi masyarakat pesisir berbasis sains dan teknologi. (PL-1)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *