Terdampak Cuaca Buruk, Puluhan Hektare Tembakau Petani di Suela Mati

SELONG, potretlombok.com – Hujan lebat yang mengguyur Lombok Timur (Lotim) khususnya di daerah utara beberapa hari terakhir ini, mengakibatkan puluhan hektare tanaman tembakau petani di Desa Ke tangga, Kecamatan Suela mati.
“Ini bekas hujan tiga hari berturut-turut kemarin. Semua tanaman tembakau terendam, karena tembakau ini tanaman yang tidak butuh banyak air, ” Terang salah seorang petani tembakau Desa Ketangga Lalu Nurdin kepda Lombok post di lahanya.
Kondisi ini tidak hanya terjadi di Desa Ketangga, namun hampir merata di daerah Kecamatan Suela. Seperti Desa Suntalangu, Desa Selaparang dan desa lainnya.
Kondisi cuaca tahun ini diakui tidak bisa diprediksi, meskipun sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bulan Mei sudah memasuki kemarau, namun hingga pertengahan bulan Mei hujan masih terus terjadi.
“Cuaca saat ini tidak bisa kita prediksi. Biasanya bulan tiga (Maret) sudah berhenti hujan, bahkan sudah diprediksi bulan Mei sudah kemarau. Makanya kami lebih awal menanam. Tapi sekarang hujan berturut-turut terjadi membuat tanaman tembakau menjadi tergenang dan mati, ” Jelasnya.
Saat ini ia sudah tiga kali menanam. Pada tanaman pertama umur tembakau sudah memasuki masa panen pertama. Namun hujan lebat yang terjadi membuat tanaman tembakau habis. Pun dengan tanam ke-dua semuanya tanaman terendam.
Ia melanjutkan, meskipun sudah dia kali gagal panen. Namun ia tidak ingin menganti dengan tanaman lain seperti jagung. Karena dikhawatirkan ketika tanaman sudah besar dan membutuhkan air hujan berhenti turun.
“Kalau kita ganti dengan tanaman jagung, takutnya nanti saat tanaman butuh air, air tidak ada, kita rugi lagi. Soalnya ini sudah sering terjadi. Makanya saya mau coba lagi tan ketiga. Kali gagal lagi terpaksa ganti tanaman, ” Jelasnya.
Kondisi ini mengakibatkannya merugi hingga puluhan juta rupiah. Dirinya berharap ada batuan lagi dari pemerintah seperti tahun sebelumnya.
Baca juga: Bukan Sekadar Angka, Prabowo Jadikan APBN Alat Perang Lawan Kemiskinan dan Penyelundupan
Kendati demikian, dirinya mengakui kondisi pupuk tahun ini lebih murah dan pendistribusian lebih lancar. Harga pupuk urea dan Fonska saat ini Rp 225 ribu per kuintal, dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya yang mencapai Rp 600 ribu per kuintal.
“Kalau pupuk saat ini sudah tidak menjadi masalah. Tetapi untuk obat-obatan banyak yang palsu. Artinya tidak terlalu berdampak terhadap tanaman, ” Pungkasnya. (PL-4)
