Elpiji 3 Kg Langka di Lotim, Operasi Pasar Digelar di Empat Desa

Lombok Timur – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mulai menggelar operasi pasar elpiji 3 kilogram di sejumlah wilayah. Langkah ini dilakukan di tengah keluhan masyarakat terkait sulitnya mendapatkan gas bersubsidi serta kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir.


Distribusi Disebut Jadi Penyebab Utama

Ketua Satgas Pemantauan Elpiji 3 Kg Lotim, Muhamad Hairi, menyatakan bahwa secara kuantitas stok elpiji di daerah tersebut masih mencukupi. Ia menyebut kuota distribusi harian mencapai 35.000 tabung, bahkan telah diajukan penambahan kuota pasca Lebaran.

“Kelangkaan ini lebih disebabkan oleh distribusi yang tidak tertib. Makanya, hari ini kita mulai operasi pasar untuk mengatasi keluhan masyarakat,” ujar Hairi, Selasa (7/4/2026).


Empat Desa Jadi Prioritas Awal

Pada tahap awal, operasi pasar difokuskan di empat desa yang dinilai mengalami kelangkaan dan lonjakan harga paling signifikan, yakni Desa Pengadangan (Kecamatan Pringgasela), Desa Lenek (Kecamatan Lenek), Desa Aikmel Utara (Kecamatan Aikmel), dan Desa Karang Baru (Kecamatan Wanasaba).

Di masing-masing lokasi, disediakan 560 tabung elpiji. Harga yang ditetapkan sebesar Rp18.000 per tabung, mengacu pada harga pangkalan resmi. Setiap kepala keluarga (KK) dibatasi hanya dapat membeli satu tabung.


Operasi Akan Diperluas, Pengawasan Diperketat

Pemerintah daerah menyebut operasi pasar akan diperluas ke seluruh kecamatan di Lombok Timur. Kegiatan ini direncanakan berlangsung hingga kondisi distribusi dan ketersediaan elpiji kembali stabil.

Selain itu, Satgas yang melibatkan aparat kepolisian akan meningkatkan pengawasan terhadap distribusi elpiji, termasuk penggunaan oleh pelaku usaha yang diduga tidak sesuai peruntukan subsidi.


Warga Keluhkan Sulitnya Akses Elpiji

Di sisi lain, warga mengaku kesulitan memperoleh elpiji dalam beberapa pekan terakhir. Salah seorang warga Desa Pengadangan, Halimatus Sakdiyah (35), mengatakan ia harus mencari hingga ke luar kecamatan untuk mendapatkan gas.

“Saya keliling sampai ke kecamatan lain, tapi semua kios kosong. Kalau pun ada, harganya mahal, sampai Rp22.000,” keluhnya.

Ia juga mengaku sempat menggunakan kayu bakar untuk memasak saat Lebaran karena tidak mendapatkan elpiji. (PL-1)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *